Ilustrasi waktu saya ngapel di suatu tempat ke arah Pandeglang :
#Assalamu 'alaikum??
wa'alaikum salam..(ibu si awewe nongol)
wa'alaikum salam..(ibu si awewe nongol)
#punten ibu, I*** na aya? (sensoorr bae rokk)
ouh, aya mangga ka lebet,,(si ibu ngablakeun panto)
nu timana kasep? (aseeeekk dah)
#ti Menes ibu.
beuh atuh eta mah Orok Menes, Orok Menes mah beuki sambel nyah?
#...????!!!!??? nyam nyam....hehehe bla bla bla
#...????!!!!??? nyam nyam....hehehe bla bla bla
Awalnya saya "enggak eungeuh" sama istilah ini, karena setiap main kerumah temen di luar kecamatan Menes, atau bahkan di luar kota Pandeglang pasti kena olokan-olokan kaya gitu hehe..bangga euy jadi orok Menes.
oke, serius serius pake bahasa formal yah biar ngerti...
Menes
Istilah ‘Orok Menes mah beuki sambel’ mungkin sudah tidak asing
lagi ditelinga masyarakat Banten.
Bahkan ada istilah-istilah lain yang
kemudian menjadi sebuah frasa lokal yang menjadi ungkapan sehari-hari
masyarakatnya, misalnya "kiceup menes" dan "singset Kananga".
Secara bahasa
Kiceup Menes memiliki arti kedipan orang Menes. Dari beberapa sumber
lisan, istilah tersebut muncul akibat kedipan gadis-gadis menes yang
terkenal cantiknya sejak dulu yang membuat pemuda yang melihatnya mabuk
kepayang (alamaaaakkk..).
Sedangkan Singset Kananga, muncul dari sebuah desa bernama
Kananga -secara administratif masuk dalam Kecamatan Menes - mempunyai
arti rok yang ditarik ke atas sedikit saat melintasi jalanan becek
hingga terlihat putihnya betis gadis Kananga yang memakainya.(oooww nooo...heuheu)
‘Orok’ berarti anak/bayi yang baru lahir (beureum keneh) dan istilah Orok
Menes berarti orang Menes atau seseorang yang berasal dari kecamatan
Menes, atau bahkan kecamatan lain yang dahulunya masuk dalam Kewedanaan
Menes. Mungkin masyarakat jaman dulu memang menggunakan bahasa serupa untuk taraf usia yang berbeda, atau mungkin memang hal itu sengaja dan lumrah di ucapkan pada jamannya.Walaupun seandainya begitu "Orok Menes" menjadi ikon tersendiri untuk masyarakat Menes saat ini.
Ungkapan-ungkapan lokal seperti itu memang sangat menarik
untuk ditelisik lebih jauh. Tetapi, akar kata ‘Menes’ dan asal-muasal
‘orok’ Menes, seringkali menjadi bagian yang terlupakan untuk dinikmati
akar sejarahnya.
Sejarah ‘Menes’
Dari beberapa literature,
Terdapat dua peristiwa masa lalu yang mempopulerkan wilayah tersebut
menjadi Menes, yang pertama pada tahun 1525/1526 diwilayah tersebut
bermukim seorang pedagang rempah-rempah berkebangsaan portugis yang
bernama Don Jorge Meneses atau DeMenes.
Kemudian yang kedua, kata
‘Menes’ berarti pula tempat atau sebuah pasar untuk bertransaksi hasil
perkebunan. Di tempat tersebut terdapat gudang-gudang penampungan
rempah-trempah sebelum diangkut ke pelabuhan ekspor. Tempat tersebut di
sebut Blok Menes. (Ahmad Hufad dalam bukunya: Identitas Kekerabatan
Orang Banten).
Tapi masih dalam buku yang sama, menurut pandangan
beberapa tokoh di Menes, bahwa kata Menes bukan kata yang di-"adopsi" dari
bahasa Portugis, melainkan kata atau bahasa lokal, yakni mones yang
berarti aneh atau keanehan. Biasanya kata Mones dirangkai dengan awal
‘ka’ dan akhirna ‘an’ sehingga menjadi kamonesan yang mempunyai arti
keanehan, pepandaian, dan keajaiban yang cenderung bermakna khas dan
unik.
Pendapat tersebut didasarkan dua alasan utama. Pertama karakter
orang Menes sangat anti terhadap penjajahan orang Eropa, sehingga sangat
kuat kecenderungannya untuk menolak pemakaian unsur bahasa penjajah
yang membawa nama identitas komunitasnya. Kedua kuatnya pengaruh ajaran
islam terhadap tradisi dan norma hidup dalam masyarakat menes yang
mengakar kuat dengan tradisi leluhur, terutama dalam era kesultanan
sunda Islam Banten. Sehingga kata Menes diyakini sebagai istilah lokal
yang terkait dengan mitos kejayaan leluhurnya yang aneh, ajaib, khas dan
unik.
‘Orok’ Menes
Secara garis besar keturunan orang
Banten terdiri dari tiga kelompok besar. Yaitu:
- Garis keturunan Banten darah putih yang tersebar di utara dan selatan;
- Garis keturunan dari Prabu Brawijaya alias Rd. Alit, yang sebagian besar bermukim di daerah selatan;
- Garis keturunan percampuran asal Kudus yang bermukim di sepanjang pantai utara antara Karangantu sampai Pontang. (Ahmad Hufad: hal:141)
source By Rimba alang-alang

It's great posting! :D
BalasHapus